A. PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Keluarga merupakan lembaga yang paling penting dalam pembentukan kepribadian anak. Kepribadian anak akan terbentuk melalui proses sosialisasi, enkulturasi, dan internalisasi. Proses-proses tersebut akan membentuk kepribadiannya kelak di masyarakat. Dalam sebuah keluarga, anak akan mendapatkan aturan-aturan atau norma, nilai-nilai dan pendidikan yang sangat diperlukan untuk menghadapi lingkungan dimana dia tinggal.
Melalui pendidikan setiap individu diharapkan dapat memahami dan mempelajari pranata sosial, mempelajari simbol-simbol budayanya, serta dapat menjadikan nilai-nilai dari apa yang mereka pelajari sebagai pedoman dalam bertingkah laku yang bermakna bagi individu yang bersangkutan dalam kehidupan sosialnya (Rohidi 1994:11). Keluarga memberikan dasar pembentukan tingkah laku watak, moral, dan pendidikan anak. Pengalaman berinteraksi dengan keluarga akan menentukan pola tingkah laku anak terhadap orang lain dalam masyarakat.
Bila dalam proses interaksi orang tua cenderung terbuka maka interaksi yang terjalin dalam keluarga tersebut berjalan dengan harmonis, dan dinamis yang kemudian akan memunculkan suatu kerja sama alam keluarga tersebut. Dengan kata lain interaksi yang harmonis akan dapat memperlancar proses sosialisasi anak. Namun apabila proses interaksi yang terjalin tersebit kurang harmonis maka proses sosialisasi anak juga akan terhambat, maka akan berdampak pada pola tingkah laku anak. Sering terdengar kasus-kasus tentang penyimpangan tingkah laku anak entah dalam usia kanak-kanak, remaja maupun dewasa itu sesungguhnya mencerminkan berhasil atau tidaknya proses sosialisasi pembentukan kepribadian dalam keluarganya sendiri.
Pola pengasuhan anak dipengaruhi oleh latar belakang etnografis, yaitu lingkunga hidup yang berupa habitat, pola menetap, lingkungan sosial, sejarah, sistem mata pencaharian, sistem kekerabatan, sistem kemasyarakatan, sistem kepercayaan, upacara keagamaan, dan sebagainya. Karena itu cara pengasuhan anak berbeda-beda diberbagai masyarakat dan kebudayaan (Danandjaja 1998).
Ada 3 macam pola asuh yang selama ini digunakan dalam masyarakat, yakni pola asuh koersif, pola asuh permisif dan pola asuh dialogis. Orang tua selalu menginginkan anaknya kelak menjadi seseorang yang dapat dibanggakan, juga dapat membantunya disaat usia mereka mulai lanjut usia. Oleh masyarakat luas hal ini dianggap sebagai bentuk bakti anak tehadap orang tua.
Pada keluarga pedagang daging sapi di Kabupaten Boyolali seperti halnya kelurga lainnya yang mempunyai kewajiban dalam pembentukan kepribadian anaknya. Hanya saja aktivitas keseharian mereka yang membedakannya denga keluarga dengan profesi yang lain. Mayoritas pedagang daging sapi tersebut adalah ibu-ibu rumah tangga, namun karena pekerjaan tersebut bisa dibilang berat maka mereka dibantu oleh suami masing-masing. Setiap pukul 22.00 malam mereka harus bangun memesan daging ke tukang jagal sapi dan kemudian langsung membawanya ke pasar untuk dijual secara ecer maupun di pasok ke orang tertentu. Mereka baru pulang setelah siang harinya, jadi hampir setiap malam anak-anak mereka tidak dapat bertemu orang tuanya karena ditinggal berjualan di pasar. Namun walaupun demikian pola pengasuhan anak pada keluarga tersebut tidak jauh berbeda dengan keluarga Jawa pada umumnya.
Peran ibu yang seharusnya mengasuh anaknya setiap hari menjadi berkurang karena aktivitas tersebut, sehingga berpengaruh terhadap perilaku dan kepribadian anak. Demikian pula peran seorang bapak menjadi kurang karena setiap hari juga harus sibuk dengan aktivitas berjualan dipasar. Untuk meminimalkan akibat dari hal tersebut sering para orang tua memberikan perhatian dalam bentuk memberikan sejumlah uang, dan menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi karena para orang tua tidak mempunyai harapan kelak anak-anak mereka akan mengikutinya sebagai penjual daging sapi.
Pola pengasuhan anak pada kelurga pedagang daging sapi ini sangat menarik untuk dikaji, sehingga peneliti tertarik untuk menelitinya. Berdasarkan deskripsi tersebut peneliti akan mencoba mencari tahu bagaimana pola pengasuhan anak pada keluarga padanag daging sapi denga memilih judul penelitian Pola Pengasuhan Anak Pada Keluarga Pedagang Daging Sapi di Kabupaten Boyolali.

2. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka pertanyaan yang muncul dalam penelitian adalah :
1. Bagaimana pola pengasuhan anak pada keluarga pedangang daging sapi?
2. Apakah pola asuh yang dilakukan menunjang pengembangan bakat anak?
3. Bagaimana perhatian yang diberikan orang tua kepada anaknya ketika sedang berjualan daging sapi di pasar?
4. Bagaimana cara orang tua menanamkan nilai dan norma kepada anak-anaknya?

3. RUMUSAN MASALAH
Berdasar identifikasi masalah tersebut maka dapat di rumuskan suatu permasalahan sebagai berikut:
a. Bagaimana pola pengasuhan anak pada keluarga pedagang daging sapi?
b. Apakah pola asuh yang diterapkan menunjang pengembangan bakat anak?

4. TUJUAN PENELITIAN
Dalam penelitian ini tujuan yang ingin dicapai adalah mengetahui tentang :
1). Pola pengasuhan anak pada keluarga pedagang daging sapi.
2). Pengasuhan yang dilakukan orang tua dalam menunjang bakat yang dimiliki anak.

5. MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat teoritis
Secara teoritis hasil penelitian ini dapat menambah khasanah pengetahuan atau sebagai kajian ilmiah suatu fenomena sosial kehidupan pedangang daging dalam mengasuh anaknya.

2. Manfaat praktis
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan besar terhadap pengembangan teori-teori Sosiologi, Antropologi, Hukum maupun Ekonomi, khususnya wilayah kajian penelitian masyarakat Indonesia umumnya. Sehingga dapat melahirkan suatu penelitian perluasan.

C. LANDASAN TEORI
1. Pola Pengasuhan Anak.
Kohn 1998 menyatakan, bahwa pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Pola asuh anak dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk meningkatkan unsur-unsur kebaikan dalam dirinya, baik aspek jasmani maupun rohani yang telah ada padanya, untuk lebih dikembangkan lagi menuju tujuan yang baik pula. Macam-macam pola asuhan dalam keluarga menurutnStewart dan Koch (dalam Dagun 2002:94) terbagi menjadi 3 pola yaitu :
a. Pola asuh otoriter
Menurut Stwart dan Koch, orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter mempunyai ciri sebagai berikut : kaku, tegas, suka menghukum, kurang kasih sayang, dan kurang simpatik. Orang tua memaksa anak-anak patuh pada nilai-nilai mereka, serta mencoba membentuk tingkah laku sesuai dengan tingkah lakunya, serta cenderung mengekang keinginan anak-anaknya. Orang tua tidak mendorong keinginan anaknya an tidak memberi kesempatan kepada anak untuk mandiri dan anak jarang mendapat pujian. Sedangkan Hurlock (1976:25) mengatakan, bahwa melatih anak secara otoriter berkaitan dengan latihan yang dirancang untuk membentuk perilaku anak yang sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh mereka yang berkuasa. Ini dilakukan dengan ancaman atau hukuman.
Peraturan dengan pengaturan yang keras untuk memaksakan perilaku yang diinginkan menandai semua jenis disiplin yang otoriter. Menurut Martinah (1964:16) orang tua yang otoriter amat terhadap anak, memegang kekuasaan tertinggi serta mengharuskan anak patuh pada perintah-perintahnya. Dengan berbagai cara, segala tingkah laku anak dikontrol dengan ketat.

b. Pola asuh demokratik.
Pola asuh demokratik menurut Hurlock (1976:25), menekankan aspek pendidikan dalam melatih anak-anak untuk menyesuaikan diri dengan standar yang diberikan melalui penerangan tentang mengapa konformitas itu diperlukan. Metode demokratis membiarkan anak mengungkapkan pendapat mereka tentang peraturan itu dan mengubah praturan bila alasannyha tampak benar. Metode ini lebih menekankan aspek edukatif dari pada aspek hukumannya.
Pola demokratis menggunakan hukuman dan penghargaan, dengan penekanan yang lebih besar pada penghargaan. Stwart dan koch menyatakan, bahwa orang tua yang demokratis memandang sama kewajiban dan hak antara orang tua dan anak. Secara bertahap orang tua memberikan tanggung jawab bagi anak-anaknya terhadap segala sesuatu yang diperbuatnya sampai mereka menjadi dewasa. Mereka selalu berdialog dengan anak-anaknya, saling memberi dan menerima, selalu mendengarkan keluhan-keluhan dan pendapat anak-anaknya. Dalam bertindak mereka selalu memberikan alasannya kepada anak, mendorong anak saling membantu, dan bertindak secara objektif, tegas, tetapi hangat dan penuh perhatian.
Hurlock mengatakan, bahwa pola asuh demokratis ditandai dengan ciri-ciri bahwa anak-anak diberi kesempatan untuk mandiri dan mengembangkan kontrol internalnya, anak diakui keberadaannya oleh orang tua dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

c. Pola asuh permisif
Menurut Hurlock (1976), disiplin permisif sebetulnya sedikit disiplin atau tidak berdisiplin. Biasanya disiplin permisif tidak membimbing anak ke pola perilaku yang disetujui secara sosial dan tidak menggunakan hukuman.
Sumbangan keluarga pada perkembangan anak ditentukan sifat hubungan antara anak dengan berbagai anggota keluarga. Hubungan ini sebaliknya dipengaruhi oleh kehidupan keluarga dan juga sikap dan perilaku berbagai anggota keluarga terhadap anak dalam keluarga tersebut. Tempat anak dibesarkan mempengaruhi perkembangan anak dengan menentukan jenis hubungan antara anak dengan berbagai anggota keluarga.

2. Keluarga
Keluarga merupakan kelompok sosial yang pertama dalam kehidupan manusia dimana seorang individu belajar dan menyatakan diri sebagai manusia sosial dalam hubungan berinteraksi dalam berhubungan denga kelompoknya (Gerungan 1972), sedangkan menurut Khoirudin, keluarga adalah susunan orang-orang yang disatukan oleh ikatan-ikatan perkawinan, darah atau adopsi. Pertalian antara suami dan istri adalah perkawinan, dan hubungan antara orang tua dan anak biasanya adalah darah atau adopsi (Khoiruddin 2002). Keluarga menurut Khairuddin 1979 adalah sebagai berikut:
1. Keluarga merupakan kelompok sosial terkecil yang umumnya terdiri dari ayah, ibu, dan anak.
2. Hubungan sosial diantara anggota keluarga relatif tetap dan di dasarkan atas ikatan darah, perkawinan, dan atau adopsi.
3. Hubungan antar anggota dijiwai oleh suasana kasih sayang dan rasa tanggung jawab.
4. Fungsi keluarga adalah merawat, memelihara, dan melindungi anak dalam angka sosialisasinya agar mereka tetap mampu mengendalikan diri dan berjiwa sosial.

Menurut Hurlock 1976, sumbangan keluarga pada perkembangan anak adalah sebagai berikut :
a. Perasaan aman karena menjadi anggota kelompok yang stabil
b.Orang-orang yang dapat diandalkan dalam pemenuhan kebutuhannya
c. Sumber kasih sayang dan penerimaan, yang tidak terpengaruh oleh apa yang mereka lakukan
d. Modal perilaku yang disetujui
e. Bimbingan dalam pengembangan pola perilaku yang disetujui secara sosial
f. Orang-orang yang dapat diharapkan bantuannya dalam memecahkan masalah yang dihadapai
g. Bimbingan dan bantuan dalam mempelajari kecakapan yang diperlukan untuk penyesuaian diri

3. Sosialisasi
Dalam masyarakat akan dijumpai auatu proses, yang menyangkut seorang anak mempelajari nilai-nilai, norma tempat ia menjadi anggota, proses ini disebut sosialisasi. Sosialisasi ialah proses membimbing individu ke dalam dunia sosial (Nasution 2004).
Dalam proses sosialisasi, individu belajar bertingkah laku, kebiasaan serta pola-pola kebudayaan lainnya, juga belajar keterampilan-keterampilan sosial seperti berbahasa, berpakaian, bergaul dan sebagainya (Gunawan 2008). Berger (dalam Sunarto 1993) mendefinisikan sosialisasi sebagai “a process by which a child to be a participant member of society”, proses melalui dimana seorang anak menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat.
Menurut Berger dan Luckman (dalam Ihromi 1999) sosialisasi dibedakan menjadi dua tahap :
1. Sosialisasi primer, sebagai sosialisasi yang pertama dijalani individu semasa kecil untuk menjadi anggota masyarakat. Yang menjadi agen sosialisasi adalah keluarga.
2. Sosialisasi sekunder, sebagai proses berikutnya yang memperkenalkan individu yang telah disosialisasikan kedalam sektor baru dari dunia objektif masyarakatnya. Yang menjadi agen sosialisasi adalah lembaga pendidikan, lembaga pekerjaan dan lingkungan yang lebih luas dari keluarga.

4.Enkulturasi
Menurut Kneller1989, enkulturasi adalah suatu proses memeluli mana seorang individu menyerap cara berpikir, bertindak dan merasa yang mencerminkan kebudayaannya. Dalam proses ini seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran dan sikapnya dengan adat istiadat, sistem norma, dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya.

D. TINJAUAN PUSTAKA
Kajian tentang penelitian pola pengasuhan anak ini bukanlah kajian baru. Penelitian tentang pola pengasuhan anak sudah banyak dilakukan di antaranya adalah penelitian dari Suroto (2008) yang diajukan guna meraih gelar sarjana pada prodi Sosiologi Antropologi tentang Pola Pengasuhan Anak Pada Keluarga Pedagang (studi kasus pada keluarga pedagang buah di kompleks pasar Johar kota Semarang) yang menggunakan pendekatan Sosiologi guna menjawab dua rumusan permasalahan :
1). Bagaimana pola pengasuhan anak pada keluarga pedagang buah?
2). Bagaimana pembagian peran antara ayah dan ibu dalam mengasuh anak?.
Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa pola pengasuhan anak pada keluarga tersebut tidak jauh berbeda dengan pola asuh pada keluarga Jawa pada umumnya.
Keluarga mempunyai cara tersendiri dalam mengasuh anak-anaknya yaitu dengan tetap mengutamakan sikap tata krama yang di ajarkan pertama kali dalam sosialisasinya guna pembentukan kepribadian anak. Penelitian ini berusaha menjawab permasalahan-permasalahan yang belum diungkap dalam penelitian-penelitian sebelumnya.

E. METODOLOGI PENELITIAN
1. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif karena secara langsung dapat menyajikan hubungan antara peneliti dengan responden secara lebih peka. Seorang peneliti kualitatif dalam memperolah data harus turun ke lapanga dan berada disana dalam waktu lama sehingga akan diperoleh dat yang banyak dan lengkap (Hidayati 2003).

2. Lokasi Penelitian
Alasan pemilihan lokasi di Kabupaten Boyolali ini adalah, karena Kabupaten Boyolali merupakan salah satu wilayah yang terkenal dengan produksi susu sapi dan penjualan daging sapi. Sehingga disana banyak ditemukan pedagang daging sapi dari pada di Kabupaten-Kabupaten lain.
Kota Boyolali merupakan Kota kecil yang jauh dari keramaian, namun disana sangat terkenal produk susu sapi dan penjualan daging sapi glonggongan.

3. Fokus Penelitian
Menurut Moleong 2004, tidak ada satupun penelitian yang dapat dilakukan tanpa adanya fokus penelitian yang diteliti. Adanya fokus penelitian membatasi studi yang berarti bahwa dengan adanya fokus penelitian yang diteliti akan memunculkan suatu perubahan atau subjek penelitian mejjadi lebih terarah, kemudian penentuan fokus penelitian akan menetapkan kriteri-kriteria untuk menjaring informasi yang diperoleh.
Fokus penelitian pada penelitian ini adalah pola pengasuhan anak pada keluarga pedagang daging sapi di Kabupaten Boyolali yang meliputi pola pengasuhan orang tua terhadap anaknya dan pengasuhan yang diterapkan dalam rangka mengembangkan potensi bakat anaknya.

4. Sumber data penelitian
Sumber data dalam penelitian ini adalah :
a. Informan
Informan dalam penelitian ini adalah :
1. Pedagang daging sapi di Kabupaten Boyolali. Penelitian dilakukan di pasar
2. Suami istri, dan anak-anak pedagang daging sapi. Penelitian dilakukan di rumah informan.
b. Foto
Saat ini foto lebih sering digunakan dalam penelitian kualitatif, karena foto dapat menghasilkan data deskriptif

5. Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a. Observasi langsung.
Peneliti terjun ke lapangan dan mengamati secara langsung aktivitas pedagang daging di sejumlah pasar di Kabupaten Boyolali.
b. Wawancara
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara mendaam, karena peneliti berusaha mengungkap berbagai informasi tentang pola pengasuhan anak pada keluarga pedagang daging sapi di Kabupaten Boyolali.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.pksanz.org , http:// ajie.web.id/index.php

Khairuddin. 1979. Sosiologi Keluarga. Jakarta : Nurcahaya.

Koentjaraningrat. 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta : Balai Pustaka.

Moleong, Lexy. 2004. Metode Penelitian Suatu Pendekatan. Bandung : Remaja Rosda Karya.

Soekanto, Soerjono.2001. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Hurlock, Elizabeth. B. 1976. Perkembangan anak jilid 6 Edisi pertama. Jakarta : Erlangga.

Gerungan, W. A. 1972. Psikologi Sosial. Bnadung : PT. Eresco.

F. LAMPIRAN

Instrumen Penelitian
( Pedoman Wawancara )

1. Identitas Informan
a. Nama :
b. Usia :
c. Jenis kelamin :
d. Agama :
e. Pendidikan :
f. Alamat :
2. Pola pengasuhan anak pada keluarga pedagang
Pertanyaan untuk bapak atau ibu yang bekerja sebagai pedagang daging sapi.
1. Pukul berapa bapak/ibu berangkat kerja?
2. Pukul berapakah bapak/ibu pulang dari kerja?
3.Apakah anak bapak/ibu sekolah?
Pola pengasuhan anak
4. Siapa yang mengasuh anak kalau bapak/ibu sedang bekerja?
5. Bagaimana pola pengasuhan yang bapak/ibu terapkan dalam mengasuh anak?
6. Bagaimana bentuk pengendalian terhadap tingkah laku anak?
7. Bagaimana cara menanamkan nilai dan norma terhadap anak?
Pengasuhan yang dilakukan orang tua menunjang pengembangan bakat anak
8. apakah bapak/ibu mengajari anak untuk berdagang daging?
9. Apakah bapak/ibu menginginkan anaknya mejadi pedagang daging?
10. Pekerjaan apa yang bapak/ibu harapkan untuk anak-anak bapak/ibu?
11. Bagaimana tanggapan anak bapak/ibu terhadap keinginan orang tua?
12. Bagaimana cara mendisiplinkan anak agar sesuai dengan keinginan/ harapan orang tua?

Instrumen Penelitian
( Pedoman Wawancara )

1.Identitas Informan
a. Nama :
b. Usia :
c. Jenis kelamin :
d. Agama :
e. Pendidikan :
f. Alamat :

2. Pertanyaan untuk anak
1. Apakah anda masih bersekolah atau sudah bekerja? Dimana?
2. Apakah anda mempunyai keinginan untuk bekerja seperti orang tua saudara?
3. Apa cita-cita anda?
4. Siapa yang paling berkuasa dikeluarga anda?
5. Apakah ada larangan khusus dalam keluarga anda?

Instrumen Penelitian
( Pedoman observasi )

1.Lokasi Penelitian :

2.Kategori Masyarakat
a.Desa ( )
b.Kota ( )
3.Kondisi Umum Masyarakat

No Point Check (√ ) Keterangan
1 Organisasi sosial
– PKK
– Karang Taruna
– Lain-lain
2 Bentuk Pemukiman
3 Kepercayaan / Agama
a. Islam
b. Kristen
c. Katolik
d. Budha
e. Hindu
f. Lain-lain
4 Nilai sosial yang berlaku
5 Norma yang berlaku
6 Mata Pencaharian
a. PNS
b. Pedagang
c. Petani
d. Lain-lain
7 Interaksi Sosial

4. Kondisi Keluarga
No Nama Anggota Keluarga Usia Agama Pendidikan Mata Pencaharian
1

2

3

4

5

6

7

8

5. Kondisi Anak
No Nama Anak Usia Agama Pendidikan Status Anak
1

2

3

4

5

6. Larangan- larangan yhang diterapkan dalam Keluarga
No Jenis Larangan Hukuman Keterangan
1

2

3

4

5

6

7

8

7. Kebebasan/Demokratisasi yang diterapkan dalam Keluarga
No Jenis kebebasan Penghargaan Keterangan
1

2

3

4

5

6

7

8

Disusun oleh :
Nama : ASRININGSIH
NIM : 3401409033
Prodi : Pend. Sosiologi dan Antropologi
Jurusan : Sosiologi dan Antropologi

FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2010