SEMINAR NASIONAL
MEMBANGUN PROFESIONALISME GURU SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN
(Antara Harapan dan Tantangan)

Pembicara :
1. Prof.Dr.Ravik Karsidi,M.Psi
(Guru Besar Sosiologi Pendidikan UNS Solo)
2. Prof.Dr.Haryono,M.Psi
(Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan UNNES)

PROFESIONALISME GURU DAN MUTU PENDIDIKAN
Oleh: Prof.Dr.Ravik Karsidi,M.Psi

Guru telah diakui sebagai suatu profesi. Dengan pengertian suatu bidang usaha manusia berdasarkan pengetahuan, dimana keahlian dan pengalaman pelakunya diperlukan oleh masyarakat. Menurut Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Thun 2005 Guru adalah pendidik yang pfofesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik.
Guru yang profesional harus mempunyai sejumlah kompetensi antara lain;
1. Memiliki keahlian yang bersifat khusus (mis: guru bidang studi)
2. Tingkat pendidikan minimal (S1)
3. Sertifikasi keahlian
4. Menguasai materi keilmuan dan keterampilan metodologi
5. Memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi atas pekerjaannya, baik terhadap Tuhan YME, bangsa dan negara, lembaga dan organisasi profesi
6. Mengembangkan rasa kesejawatan yang tinggi dengan sesama guru.
Selain itu seorang guru juga harus memiliki kompetensi pendidik yaitu:
a. Kompetensi Paedagogik
Adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
b. Kompetensi kepribadian
Merupakan kemampuan yang berkaitan dalam performans pribadi seorang pendidik. Kepribadian dimaknai sebagai pemikiran, emosi, dan perilaku tertentu yang menjadi ciri dari seseorang dalam menghadapi dunianya. Kepribadian pendidik tidak dapat dibentuk secara instant, membutuhkan proses hingga terbentuk pribadi pendidik seperti yang diharapkan sesuai kompetensi.
c. Kompetensi profesional
Merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam standar nasional
d. Kompetensi sosial
Merupakan kemampuan berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan: peserta didik, tenaga kependidikan, sesama pendidik, orang tua peserta didik, dan masyarakat.
Mutu Pendidikan adalah suatu keberhasilan proses dan hasil belajar yang menyenangkan dan memberikan kenikmatan. Profesionalisme guru harus didukung kompetensi standar yaitu penguasaan Teknologi informasi, sehingga akan merubah hubungan Guru dengan murid dan sistem pendidikan secara keseluruhan. Profesionalisme Guru perlu didukung penegakan kode etik guru sebagai norma hukum yang dijunjung tinggi.

PROFESIONALISME GURU
Oleh: Prof.Dr. Haryono, M.Psi

Dahulu Guru hanya diakui secara semu, guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dan penghargaan yang diberikan berdasarkan belas kasihan (“lamentation”). Tapi setelah ditetapkannya UU Guru dan Dosen No.14 Tahun 2005, Guru diakui secara legal-yuridis sebagai profesi kemudian guru diberikan penghargaan. Menurut Undang-Undang tersebut Guru sebagai pendidik profesional mempunyai tugas utama yaitu: mendidik, mengajar, mengarahkan, menilai, mengevaluasi peserta didik pada PAUD jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, pendidikan menengah. Untuk meningkatkan mutu pendidikan maka diperlukan peningkatan mutu guru antara lain:
a. Well educated atau pendidikan yang baik. (S1,S2,S3/spesialis)
b. Highly performance atau penampilan yang tinggi/menyakinkan
c. Well paid atau dibayar dengan cukup (sertifikasi)
Pendidik yang profesional itu mempunyai 4 kriteria;
a. Menguasai disiplin ilmu
b. Memahami peserta didik
c. Menguasai keterampilan pembelajaran yang mendidik
d. Menguasai kemampuan pengembangan kepribadian dan profesionalitas.
Guru sebagai profesional mempunyai hak-hak, antara lain:
a. Berhak memperoleh penghasilan yang layak; gaji pokok, tunjangan profesi guru, tunjangan khusus.
b. Tunjangan profesi; setara 1 kali gaji pokok guru negeri pada tingkatan, masa kerja dan kualifikasi yang sama.
c. Tujangan khusus
d. Selama guru belum mempunyai sertifikat profesi, mereka memperoleh peningkatan kesejahteraan melalui perbaikan tunjangan fungsional.
Profesionalisasi guru : Upaya Membangun Citra
• Guru harus mengembangkan profesinya berdasarkan sistem merit, artinya pengakuan dan penghargaan didasarkan pada kuantitas karya dan jasa yang dapat diberikan bukan karena belas kasihan.
• Guru harus menguasai dasar IPTEK yang kuat, kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan praksis pendidikan, serta mengembangkan kemampuan profesional secara berkesinambungan.

Dampak Profesionalisme Guru
Terhadap Dunia Pendidikan
Dasar utama dari sekolah yang efektif adalah pembelajaran yang efektif (Idris, 2006:103). Sekolah yang efektif memerlukan guru yang profesional, karena profesionalisme dalam segala pekerjaan utamanya dalam pendidikan adalah syarat mutlak agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Guru Profesional adalah guru yang memenuhi aspek-aspek pokok yaitu:
1). Memiliki ilmu pengetahuan tertentu,
2). Dapat mengaplikasikan kemampuan/kecakapannya, dan
3). Memiliki kaitan dengan kepentigan umum.
Dengan adanya tenaga pendidik yang profesional maka akan memberikan pengaruh yang besar terhadap peserta didik. Pengaruh tersebut tentunya diharapkan dapat membawa peserta didik kearah kemajuan. Guru yang profesional dapat membantu terciptanya sekolah efektif dengan ciri-ciri:
a. Praktik manajemen kelas yang baik
b. Keterlibatan akademik yang tinggi
c. Pementauan (monitoring) kemajuan siswa
d. Perbaikan instruksional sebagai prioritas sekolah
e. Jelas goals dan objectives (tujuan dan sasaran)
Max Weber melakukan penelitian tentang efektifitas pengajaran membaca dengan kriteria: kepemimpinan yang kuat, harapan yang tinggi menekankan pada keterampilan membaca, hati-hati dan tetap melakukan evaluasi terhadap kemajuan siswa, menggunakan ponetik, pengajaran secara individual, penuh perhatian terhadap kemajuan siswa (Idris, 2006: 73).
Guru profesional tentunya harus mengikuti dan menguasai Teknologi Informasi, sehingga dalam penyampaian atau media yang digunakan saat pembelajaran berlangsung dapat meningkatkan semangat dan motivasi peserta didik. Motivasi merupakan proses internal yang mengaktifkan, memadu,dan memelihara perilaku seseorang secara terus-menerus (Slavin, 1994).
Dengan penguasaan teknologi dari pendidik maka dapat menjadi motor penggerak motivasi para peserta didik. Indikator siswa yang termotifasi adalah menunjukkan proses kognitif yang tinggi dalam belajar, menyerap dan mengingat apa yang telah di pelajari.
Kedudukan guru sebagai tenaga pengajar profesional mempunyai visi dan misi. Visinya adalah terwujudnya penyelenggaraan pembelajaran sesuai dengan prinsip-prinsip profesionalitas untuk memenuhi hak yang sama bagi setiap warga negara dalam memperoleh pendidikan yang bermutu. Misinya adalah mengangkat martabat tenaga pengajar, menjamin hak dan kewajiban tenaga pengajar, meningkatkan kompetensi tenaga pengajar, memajukan profesi serta karier tenaga pengajar, meningkatkan mutu pembelajaran, meningkatkan mutu pendidikan nasional, mengurangi kesenjangan ketersediaan tenaga pengajar antardaerah dari segi jumlah, mutu kualifikasi akademik, dan kompetensi. Misi lainnya adalah mengurangi kesenjangan mutu pendidikan antardaerah dan meningkatkan pelayanan pendidikan yang bermutu.
Kedudukan profesional guru sebagai pekerjaan profesional juga mengarah kepada tingkat kesejahteraan guru itu sendiri. Guru yang sudah memiliki sertifikat profesi guru sudah sepantasnya melaksanakan tugas guru yang lebih bila dibandingkan dengan kedudukannya sebelumnya. Undang-undang Guru dan Dosen No. 14 tahun 2005 sudah sepantasnya guru sebagai tenaga profesional mendapatkan apa yang sepantasnya mereka dapatkan dan tentu saja dapat memberikan dampak bagi pelaksanaan pendidikan di sekolah utamanya bagi peningkatan potensi diri maupun prestasi belajar para peserta didiknya.
Dampak positif yang diharapkan dengan adanya UU tersebut tentu saja adalah pendidikan di Indonesia menjadi lebih maju baik di daerah perkotaan maupun di daerah pedalaman, kesejahteraan guru semakin terjamin dan yang tidak kalah pentingnya adalah kemajuan bagi bangsa ini kedepan.

DAFTAR PUSTAKA
Biggs, Morris L., (1982). Learning Teories for Teaching. New York: Harper & Row, Publisher.
Chauhan, S.S., (1979). Innovation in Teaching Learning Process, New Delhi: Vikas Publishing Hoyse, Pvt.Ltd.
Decentralized Basic Education Project, (2007). Better Teaching Learning. Jakarta: AED.
Rifa’i, achmad, dkk, 2009. Psikologi Pendidikan. Semarang : Universitas Negeri Semarang Press.
Idris, Jamaluddin,2006. Sekolah Efektif Dan Guru Efektif. Yogyakarta : Suluh Press.

Disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah: Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Dosen Pengampu: 1. Drs. Adang Syamsudin
2. Oktavia Adi S, S.P

Disusun oleh:
Asriningsih
NIM. 3401409033
Jurusan Sosiologi dan Antropologi
Fakultas Ilmu Sosial
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2010