Perbedaan doktrin dan sikap mental
– Konflik sebagai kategori sosiologis bertolak belakang dengan perdamaian dan kerukunan.
– Yang terakhir ini merupakan hasil dari proses asosiatif yaitu proses yang bersifat menyatukan, sedangkan yang pertama merupakan dari proses disasosiatif yaitu proses yang bersifat mencaraikan.
– Konflk melibatkan dua pihak yang berbeda agama, bukannya sebagai konstruksi kayal (konsepsional) melainkan sebagai fekta sejarah yang masih sering terjadi.
– Perbedaan iman menimbulkan bentrokan. Tetapi harus diterima sebagai fakta yang diambil hikmah.
– Setiap pihak mempunyai gambaran tentang ajaran agamanya.
– Dalam skala penilaian yang dibuat (subjektif) nilai tertinggi selalu diberikan kepada agamanya sendiri dan agamanya sendiri selalu diajadikan patokan (refernce group).
– Apologetika adalah bagian dari teologi yang membela dan mempertahankan kebenaran agama yang diimaninya terhadap serangan dari dalam maupun dari luar.
– Ciri konfrontatif dariapologetika adalah jika memulai metode antitesis maka ditonjolkan kekurangan dan kelemahan agama lain.
– Apabila menggunakan metode positivo- tesis maka kebenaran dan sepertanyaan Allah dalam kitab suci yang dipercayainya, tanpa menjelekkan agama dengan menyerang kitab suci mereka dan tidak melukai hati orang lain.
– Apologi yang konfrontatif bertujuan untuk mencari menang sendiri dengan mengalahkan pihak lain belum pernah menghasilakn buah positif.
– Ajaran agama pada umumnya membentuk sikap yang baik / persaudaraan, cinta kasih, dan yang sangat membantu ketentraman dan keamanan masayarakat.
– tiap umat beragama mempunyai keyakinan bahwa agamanya yang paling benar maka mereka mejadi sombong, merasa lebih tinggi dari pada semua pemeluk agama yang lain.
– Denag kaca mata superior, si penyombong itu memandang sesuatu yang ada pada golongan agama lain serba bodoh dan serba salah.
– Keseluruhan komplek jiwa itu disebut dengan istilah prasangaka / prejudice.
– Hal ini memang sering terjadi dalam masyarakat dengan agama heterogen, dimana kelompok agama luar atau out group menjadi korban.

Perbedaan suku dan ras pemeluk agama.
– Perbedaan suku dan ras berkat adanya agama bukan menjadi penghalang untuk menciptakan hidup persaudaraan yang rukun.
– Asumsi yang terkenal dan mengundang banyak sanggahan yang gigih adalah dari Arthur de Gobineau yang menyatakan bahwa ras kulit putih merupakan ras tertinggi bangsa manusia.
– Namun kenyataan sejarah tidak dapat dibantah bahwa ras kulit putih sejak awal masehi memeluk agam kristen yang nantinya oleh marx weber dinyatakan sebagai kekuatan yang mendatangkan kemajuan dalam berbagai sektor peradaban khususnya kapitalisme dan teknologi.
– Ada ketegangan yang terjadi selama berabad-abad antara kulit putih yang beragama kristen khususnya di Amerika Utara dan Afrika Selatan masih menjalankan politik dikriminasi ras terhadap ras kulit hitam (negro).
– Tindakan tercela itu dilakukan bukan karena kurangnya pengetahuan tentang jahatnya diskriminasi itu.

Perbedaan tingkat kebudayaan.
– Kemajuan kebudayaan bangsa didunia dibedakan menjadi dua yaitu kebudayaan yang tinggi dan kebudayaan yang rendah, meskipun pembagian dikotonis dan simplitis ini menenggelamkan nuansa kekayaan kultural.
– Adanya ketegangan antara bangsa berbudaya tinggi dan yang rendah tidak dapat dilepaskan dari pertanggung jawaban agama yang dianut oleh bangsa yang bersangkutan.
– Sacara moral agama tidak bisa cuci tangan atas terjadinya jurang diskriminatif antara bangsa yang maju dan terbelakang.
– Agama merukapakan motor dan promotor penting bagi pembudayaan manusia khususnya dan alam semesta umumnya.
– Masyarakat dan kebudayaan merupakan usaha manusia untuk membangun dunianya.
– Bukan agama sendiri yang mebangun dunia tetapi manusia yang berinspirasi pada agama yang dipeluknya.
– Ekstenalisasi berarti penyerahan diri manusia terus menerus kedalam dunia baik dalam kegiatan fisik maupun mental yang kemudian nampak dihadapan pembuatnya sebagai fasilitas lahiriah yang lain dari aslinya.
– Internalisasi adalah kepemilikan kembali realitas yang sama, emngubahnya sekali lagi dalam struktur dunia objektif ke struktur dunia kesadaran.
– Menurut Faohry Ali, untuk menelaah agama metode yang paling tepat untuk digunakan adalah metode fenomenologis.
– Peter L. Burger menyatakan bahwa agama masih memainkan perannya yang strategis dalam usaha manusia membangun dunianya.

Masalah mayoritas dan minoritas golongan agama.
– Hubungan antar kedua golongan tersebut sering diungkapkan dengan istilah diktatus mayoritas dan terror minoritas.
– Agama-agama besar didunia tidak selalu memiliki penagnut yang besar juga.
– Hubungan mayoritas-minoritas membawa dampak ditingkat nasional, misalnya diAceh,Jawa Barat, Sulawesi, minoritas Kristen yang mengalami kerugian fisik yaitu adanya pengusakan atau pembakaran gedung peribadatan.
– Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan masalah konflik anatr golonagn yaitu : agama diubah menjadi ideologi, prasangka mayoritas terhadap minoritas dan sebaliknya, mitos dari mayoritas.
– Golongan minoritas mampu berbuat sesuatu dalam tindak lawan hukum, yang perlu diperhatikan:
a. Golongan minoritas menyadari dirinya sebagai kelompok religius yang lemah, mereka menjauhkan diri kedaerah yang terpencil misalnya susku tengger di jawa timur dan suku badui di jawa barat.
b. Golongan minoritas tidak menyadari dirinya sebagai kelompok yang kelompok.
c. Golongan minoritas agama yang memilki kesadran tinggi atas kedudukannya dalam masyarakat.
d. Golongan minoritas yang berideologi marxis menurut catatan sejarah mencetuskan reaksinya terhadap mayoritas dengan cara tersendiri.