A. Sosiologi Sebagai Ilmu Dan Metode
Sejak dilahirkan di dunia, manusia memiliki naluri untuk memperhatikan manusia lain yang ada di sekitarnya. Lingkungan pertama yang menjadi perhatian adalah keluarganya, yang terdiri dari kedua orang tua, saudara, dan mungkin juga orang lain yang telah dianggap menjadi bagian dari keluarga yang bersangkutan. Selanjutnya manusia juga memperhatikan lingkungan lain yang lebih luas, seperti karib kerabat, tetangga, kawan sepermainan, dan seterusnya. Perhatian tersebut pada awalnya bersifat naluriah saja, oleh karena sejak dilahirkan manusia memiliki hasrat yang kuat untuk senantiasa hidup bersama dengan sesama manusia. Perhatian yang bersifat naluriah tersebut mula-mula hanya merupakan pengetahuan belaka, kemudian secara lambat laun tersusun secara sistematis.
Dalam perkembangan selanjutnya, muncullah orang-orang yang secara khusus memikir-kan masyarakat beserta kehidupannya secara mendalam dalam rangka mencari kebenaran yang hakiki. Berawal dari pemikiran yang mendalam seperti itulah kemudian berkembang ilmu pengetahuan, dalam hal ini adalah ilmu sosiologi dan ilmu antropologi.

1. Sosiologi Sebagai Ilmu
Secara etimologis, sosiologi terdiri dari dua suku kata, yakni socius dan logos. Socius merupakan bahasa Latin yang berarti teman, sedangkan logos merupakan bahasa Yunani yang berarti kata, perkataan, atau pembicaraan. Dengan demikian, secara harfiah sosiologi berarti memperbincangkan teman pergaulan, atau, dapat diperluas artinya menjadi ilmu pengetahuan tentang pergaulan hidup manusia atau ilmu pengetahuan tentang masyarakat.
Tokoh yang pertama kali mengemukakan istilah sosiologi adalah Auguste Comte (1798-1857). Pemikiran-pemikirannya yang mendalam tentang masyarakat telah menempatkan Auguste Comte sebagai peletak dasar ilmu sosiologi. Dalam bukunya yang berjudul Cours de Philosophie Positive, ia memberikan penjelasan tentang beberapa pendekatan umum yang dapat dipergunakan untuk mengkaji kehidupan masyarakat. Pendekatan-pendekatan umum tersebut pada akhirnya berkembang menjadi metodologi yang bersifat ilmiah. Itulah sebabnya Auguste Comte dikenal sebagai Bapak Sosiologi.
Pemikiran-pemikiran Auguste Comte tentang masyarakat mendapat perhatian dari pemikir-pemikir sosial pada generasi berikutnya. Itulah sebabnya sosiologi mengalami perkembangan secara pesat yang ditandai dengan bermunculannya ahli-ahli sosiologi. Karena objek kajian sosiologi adalah kehidupan masyarakat yang bersifat dinamis dan sangat beragam, sehingga terdapat beberapa perbedaan sudut pandang terhadap konsep sosiologi.
Perbedaan sudut pandang tersebut tentu akan memunculkan berbagai definisi tentang sosiologi. Beberapa pendapat tentang sosiologi dapat diperhatikan pada uraian berikut ini:
1. Menurut Roucek Warren, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok.
2. Menurut Peter L. Berger, sosiologi merupakan studi ilmiah mengenai hubungan antara masyarakat dengan individu.
3. Menurut Emile Durkheim, sosiologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial. Selanjutnya tokoh ini juga menjelaskan bahwa fakta sosial sangat berbeda dengan fakta individual. Fakta sosial bukanlah fakta individual.
4. Menurut Max Weber, sosiologi merupakan ilmu yang berhubungan dengan pemahaman terhadap tindakan-tindakan sosial dan sekaligus berhubungan dengan suatu penjelasan kausal mengenai arah, tujuan, dan konsekuensi dari tindakan sosial.
5. Menurut Pitirim Sorokin, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang: (1) hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial, (2) hubungan antara gejala-gejala sosial dengan gejala-gejala nonsosial, dan (3) ciri-ciri umum semua jenis gejala sosial lainnya. Hubungan timbal balik antara gejala-gejala sosial misalnya adalah: hubungan antara tingkat ekonomi dengan perilaku sosial, hubungan antara pendidikan dengan kebudayaan, hubungan antara pendidikan dengan ekonomi, hubungan antara agama dengan kehidupan sosial, dan lain sebagainya. Hubungan timbal balik antara gejala-gejala sosial dengan gejala-gejala non-sosial misalnya adalah: hubungan antara kondisi geografis dengan kebudayaan, hubungan antara iklim dengan kehidupan ekonomi, dan lain sebagainya.
6. Menurut Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.
Beberapa pendapat di atas menunjukkan, selain adanya perbedaan cara pandang yang ditunjukkan oleh masing-masing sosiolog, juga menunjukkan adanya aneka ragam gejala sosial yang menjadi kajian sosiologi. Namun secara umum dapat dikatakan bahwa sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan-hubungan antar manusia dalam kehidupan masyarakat, baik struktur sosial, proses sosial, dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Lalu, apakah yang dimaksud dengan masyarakat tersebut?
Berikut ini akan dijelaskan tentang konsep-konsep umum realitas sosial dalam masyarakat:
1. Keluarga
Keluarga merupakan unit sosial yang terkecil yang terdiri dari Suami, Istri dan anak. Keluarga dibentuk melalui perkawinan.
Inti dari pengertian keluarga adalah sebagai berikut:
a. Merupakan kelompok sosial terkecil yang terdiri dari ayah, ibu dan anak.
b. Hubungan antara anggota keluarga dijiwai rasa tanggung jawab
c. Fungsi keluarga adalah memelihara, merawat, dan melindungi anak-anak dalam proses sosialisasi agar mampu mengendalikan diri dan berjiwa sosial.
d. Hubungan sosial relatif tetap dan didasarkan atas ikatan darah, perkawinan dan adopsi.
2. Masyarakat
Masyarakat berasal dari bahasa Arab, Syaraka yang artinya ikut serta atau berpartisipasi. Dalam bahasa Inggris Society yang berarti mencakup interaksi sosial, perubahan sosial dan rasa kebersamaan. Berikut ini pengertian masyarakat menurut para ahli:
a. Emile Durkheim
b. Karl Marx
c. Max Weber
d. Selo Soemarjan
Ciri-ciri masyarakat
Menurut Soerjono Soekanto, ciri-ciri masyarakat adalah sebagai berikut:

3. Struktur Sosial
4. Status dan peran
5. Institusi Sosial
6. Stratifikasi Sosial
J.L. Gillin dan J.P. Gillin mengatakan bahwa masyarakat merupakan kesatuan hidup manusia yang terikat oleh suatu tata cara (sistem), kebiasaan, dan adat istiadat tertentu yang dianut oleh anggota-anggotanya. Dalam bukunya yang berjudul Pengantar Ilmu Antropologi, Koentjaraningrat mengatakan bahwa masyarakat merupakan sekumpulan manusia yang saling bergaul atau saling berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama.

Tidak diragukan lagi bahwa sosiologi merupakan suatu ilmu. Pernyataan tersebut setidaknya didukung oleh beberapa hal yaitu:
1. Memiliki objek kajian
Objek kajian sosiologi adalah fenomena sosial secara umum. Dengan demikian, sosiologi tidak terfokus pada bidang-bidang kajian yang spesial seperti ilmu hukum, ilmu ekonomi, ilmu politik, sejarah, antropologi, dan lain sebagainya.
2. Memiliki metode ilmiah
Secara singkat dapat dikatakan bahwa metode ilmiah merupakan seperangkat langkah-langkah yang disusun secara sistematis guna:
a. Menggali data yang diperlukan dalam suatu penelitian,
b. Menganalisis data penelitian,
c. Menginterpretasikan data penelitian, dan
d. Mengambil kesimpulan dalam sebuah penelitian ilmiah.
3. Memiliki masyarakat ilmiah
Masyarakat ilmiah merupakan sekumpulan orang yang menggeluti disiplin ilmu tertentu untuk mempelajari dan sekaligus mengembangkan bidang keilmuan sesuai dengan disiplin ilmu yang dipilih. Tidak sedikit tokoh yang memilih sosiologi sebagai disiplin ilmu yang dikaji secara mendalam sehingga memunculkan sosiolog-sosiolog yang menciptakan masyarakat ilmiah tersendiri. Seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa objek kajian sosiologi adalah fenomena sosial secara umum. Oleh karena itu, sosiologi merupakan bagian dari ilmu pengetahuan sosial.
Objek kajian sosiologi yang merupakan fenomena sosial secara umum memungkinkan berkembangnya beberapa cabang dalam disiplin ilmu sosiologi, di antaranya adalah:
a. Sosiologi Agama, yakni suatu cabang sosiologi yang secara khusus mempelajari fenomena kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan perilaku beragama.
b. Sosiologi Politik, yakni suatu cabang sosiologi yang secara khusus mempelajari fenomena kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan perilaku berpolitik.
c. Sosiologi Pendidikan, yakni suatu cabang sosiologi yang secara khusus mempelajari fenomena kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan perilaku pendidikan.
d. Sosiologi ekonomi, yakni suatu cabang sosiologi yang secara khusus mempelajari fenomena kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan perilaku ekonomi.
Berdasarkan sifat dan hakikatnya sebagai ilmu, sosiologi memiliki beberapa karakteristik diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Sosiologi tidak memiliki konsep maupun teori yang tetap dan pasti karena objek kajiannya adalah masyarakat yang bersifat dinamis dan majemuk. Pada dasarnya ilmu-ilmu sosial memang tidak memiliki konsep dan teori yang tetap dan pasti. Hal ini berbeda dengan ilmu-ilmu alam yang memiliki rumus, dalil, konsep, dan teori yang relatif lebih pasti. Misalnya, dalam mengkaji masalah perilaku menyimpang atau kenakalan remaja akan terdapat beberapa pendapat sesuai dengan sudut pandang yang dipergunakan oleh sosiolog yang bersangkutan.
2. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat kategoris, yakni terbatas dalam hal mengkaji sesuatu yang telah terjadi dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian sosiologi tidak memiliki kemampuan untuk membuat suatu prediksi terhadap sesuatu yang belum terjadi. Sosiologi bukan merupakan ilmu pengetahuan yang mengkaji tentang segala sesuatu yang seharusnya terjadi. Misalnya, keanekaragaman budaya dan adat istiadat yang dimiliki oleh bangsa Indonesia memang merupakan suatu yang secara turun temurun diwarisi dari nenek moyang bangsa Indonesia.
3. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat umum, yakni memusatkan perhatiannya terhadap gejala-gejala sosial yang bersifat universal.
4. Sebagai konsekuensi dari poin (3) di atas, maka sosiologi merupakan ilmu murni (pure science) yang bersifat teoritis. Sebagai ilmu murni (pure science), sosiologi membatasi diri dari percoalan-persoalan yang bersifat penilaian. Artinya, teori-teori sosiologi tidak dipergunakan untuk menilai atau menjelaskan segi-segi moral dari suatu fenomena sosial. Sosiologi sebatas mendeskripsikan fenomena sosial berdasarkan hukum sebab akibat (kausalitas). Sosiologi berasifat teoritis, bahwa fenomena kehidupan masyarakat sebagai objek sosiologi dikaji secara ilmiah, konseptual, dan teoritis.

2. Sosiologi Sebagai Metode
Selain sebagai ilmu, sosiologi juga merupakan metode. Dengan demikian, sosiologi setidaknya harus mencakup pengetahuan dasar tentang:
1. Kedudukan dan peran sosial individu dalam keluarga, kelompok sosial, dan masyarakat,
2. Nilai-nilai dan norma-norma sosial yang mendasari dan sekaligus mempengaruhi sikap dan perilaku hubungan-hubungan sosial dalam masyarakat,
3. Masyarakat dan kebudayaan daerah sebagai sub-masyarakat dan kebudayaan nasional Indonesia,
4. Perubahan sosial budaya yang terus menerus berlangsung, baik yang disebabkan oleh faktor-faktor internal maupun faktor- faktor eksternal, dan
5. Masalah-masalah sosial budaya yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk mengkaji masalah-masalah sosial yang mendasar seperti di atas sosiologi mengembangkan suatu metode penelitian yang dikenal dengan istilah metode sosiologi. Metode yang dipakai dalam penelitian sosiologi pada umumnya lebih dari satu metode keilmuan mengingat kompleksitas fenomena masyarakat yang menjadi objek penelitian. Adapun metode yang lazim dipakai dalam penelitian sosiologi antara lain:
1. Metode kualitatif, merupakan metode sosiologi yang menekankan pengumpulan data yang berupa kata-kata. Terdapat tiga macam metode kualitatif, yakni metode historis, metode komparatif, dan metode studi kasus.
a. Metode historis adalah metode yang dipergunakan untuk mencari dan sekaligus menganalisis data yang berupa peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa yang lampau dalam rangka memperoleh gambaran umum tentang fenomena kehidupan masyarakat yang terjadi pada masa silam. Contohnya adalah penelitian tentang pengaruh kolonialisme dalam peri kehidupan masyarakat Indonesia. Masalah seperti itu dapat dikaji dengan menggunakan metode historis.
b. Metode komparatif adalah metode sosiologi yang dikembangkan melalui kegiatan perbandingan terhadap fenomena-fenomena yang terjadi dalam suatu masyarakat. Metode komparatif dapat bersifat horisontal meupun bersifat vertikal. Metode komparatif horisontal dapat dilakukan dengan cara melakukan studi perbandingan terhadap fenomena yang terjadi pada masyarakat yang satu dengan fenomena yang terjadi pada masyarakat yang lain dalam waktu yang bersamaan. Sedangkan metode komparatif vertikal dapat dilakukan dengan cara melakukan studi perbandingan terhadap fenomena yang terjadi pada masyarakat sekarang dengan fenomena yang terjadi pada masyarakat pada masa yang lampau.
c. Metode studi kasus merupakan suatu penelitian yang dilakukan terhadap suatu masyarakat tertentu dalam rangka mengkaji secara mendalam fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan masyarakat tersebut.
2. Metode kuantitatif adalah metode penelitian yang menekankan pengumpulan data dalam bentuk angka-angka. Tujuan penelitian kuantitatif adalah untuk mengukur gejala-gejala sosial dengan ukuran-ukuran yang jelas. Terdapat dua macam metode kuantitatif, yaitu metode statistik dan metode sociometry.
a. Metode statistik adalah metode penelitian yang bertujuan untuk mengkaji fenomena sosial melalui data-data statistik.
b. Metode sociometry adalah metode penilitian yang bertujuan untuk mencari hubungan-hubungan antarmanusia dalam kehidupan masyarakat secara kuantitatif.
3. Metode induktif adalah metode penelitian yang dipergunakan untuk mengkaji fenomena masyarakat dengan suatu proses yang dimulai dari kajian-kajian terhadap fenomena-fenomena yang secara khusus terjadi dalam kehidupan masyarakat untuk dipergunakan sebagai pertimbangan dalam mengambil kesimpulan umum.
4. Metode deduktif adalah metode penelitian yang dipergunakan untuk mengkaji fenomena masyarakat dengan suatu proses yang dimulai dari kaidah-kaidah umum untuk dijadikan alat dalam mengkaji fenomena-fenomena yang secara khusus terjadi dalam kehidupan masyarakat.
5. Metode empiris adalah metode penelitian yang dilakukan dengan cara yang intensif dan sistematis dalam rangka menggali kenyataan-kenyataan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat (data-data empiris). Metode empiris tersebut dipergunakan untuk memperoleh pengetahuan yang lengkap mengenai permasalahan yang berkembang dalam kehidupan masyarakat

B. Hubungan Realita Sosial Dengan Perkembangan Sosiologi
Sosiologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang kehidupan masyarakat. Dengan demikian, dinamika sosial yang berkembang dalam kehidupan masyarakat sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan industrialisasi, sangat berpengaruh bagi perkembangan ilmu sosiologi. Sudah barang tentu dinamika sosial serta akibat-akibat yang ditimbulkan, baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif, akan selalu menarik perhatian bagi kalangan sosiolog. Beberapa persoalan seperti munculnya kelas-kelas sosial, berkembangnya kriminalitas, berkembangnya urbanisasi, berkembangnya kemiskinan, dan lain sebagainya mendapat perhatian secara serius oleh para sosiolog melalui kegiatan penelitian. Kegiatan penelitian yang dilaksanakan secara terus menerus seperti itulah yang mendorong berkembangnya ilmu sosiologi.
1. Perkembangan Sosiologi
Benih-benih perkembangan ilmu sosiologi sudah mulai terlihat sejak abad ke-19, yakni dipelopori oleh Auguste Comte (1789-1857). Pemikir berkebangsaan Perancis tersebut telah berusaha untuk mengembangkan prinsip-prinsip dasar ilmu pengetahuan alam untuk digunakan dalam pengembangan ilmu pengetahuan sosial. Menurut Auguste Comte: jika metode-metode yang digunakan untuk mempelajari gejala-gejala alam dipergunakan pula untuk mempelajari gejala-gejala sosial, maka persoalan-persoalan sosial akan dapat dipelajari dan diatasi.
Apa yang diusahakan oleh Comte tersebut mendapat perhatian secara luas oleh ilmuwan-ilmuwan lain yang tertarik pada masalah-masalah sosial seperti Herbert Spencer (Inggris), Emile Durkheim (Perancis), Max Weber (Jerman), dan lain sebagainya. Akhirnya beberapa tokoh tersebut sepakat untuk menyebut ilmu pengetahuan yang mengkaji masalah-masalah sosial dengan istilah sosiologi. Pada akhir abad ke-20 ilmu sosiologi mengalami perkembangan yang sangat menggembirakan.

Di Indonesia, sebelum kemerdekaan sesungguhnya kajian-kajian tentang sosiologi sudah sering dilakukan. Di beberapa lembaga perguruan tinggi, sosiologi diajarkan sebagai pelengkap mata kuliah ilmu hukum. Setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1948, untuk pertama kalinya seorang ilmuwan Indonesia, Soenario Kolopaking, mengajarkan sosiologi kepada para mahasiswa Akademi Ilmu Politik di Yogyakarta. Tidak lama setelah itu sosiologi mengalami perkembangan yang sangat pesat yang ditandai dengan munculnya sosiolog-sosiolog berkebangsaan Indonesia seperti Djody Gondokusumo, Hasan Shadily, Selo Soemardjan, Soelaeman Soemardi, dan lain sebagainya.

2. Beberapa Pelopor dalam Bidang Sosiologi
Tokoh-tokoh yang mempelopori muncul dan berkembangnya sosiologi sangatlah banyak. Berikut ini akan ditampilkan sebagian kecil dari para tokoh pelopor yang banyak berperan dalam meletakkan dasar-dasar ilmu sosiologi dan sekaligus mengembangkannya.
a. Auguste Comte (1798-1857)
Orang yang pertama kali memberikan nama sosiologi adalah Auguste Comte. Berkat jasa-jasanya yang besar dalam meletakkan dasar-dasar ilmu sosiologi, Auguste Comte dianggap sebagai Bapak Sosiologi. Menurut pemikirannya, sosiologi terdiri atas dua bagian penting, yaitu social statistic dan social dynamics. Sebagai social statistic, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan timbal balik antara lembaga-lembaga sosial. Sedangkan sebagai social dynamics, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari perkembangan lembaga-lembaga sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat.
Auguste Comte beranggapan bahwa fenomena sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat harus dikaji secara objektif, yakni didasarkan kepada kenyataan yang benar-benar terjadi dalam kehidupan masyarakat.

b. Herbert Spencer (1820-1803)
Herbert Spencer merupakan seorang pemikir berkebangsaan Inggris. Pemikiran-pemikirannya tentang ilmu sosiologi terutama dituangkan dalam bukunya yang berjudul The Principles of Sociology. Menurut pandangannya, sosiologi harus menyoroti hubungan timbal balik antara berbagai unsur yang membentuk masyarakat, seperti sistem nilai, sistem norma, lembaga keluarga, lembaga politik, dan lembaga keagamaan.
c. Emile Durkheim (1858-1917)
Pemikir berkebangsaan Perancis ini beranggapan bahwa sosiologi merupakan ilmu pengetahuan sosial yang meneliti tentang lembaga-lembaga sosial dan sekaligus proses- proses sosial. Pemikiran-pemikirannya yang mendalam tentang ilmu sosiologi telah memungkinkan ilmu ini berkembang menjadi beberapa cabang, yakni sosiologi umum, sosiologi agama, sosiologi hukum, sosiologi kesehatan, sosiologi ekonomi, sosiologi demografi, dan sosiologi estetika.
d. Max Weber (1864-1920)
Max Weber merupakan sosiolog berkebangsaan Jerman. Pemikir ini telah melakukan pengkajian tentang perilaku manusia serta melakukan pengkajian terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan sebab-akibat terjadinya interaksi sosial. Menurutnya, sosiologi merupakan ilmu yang berusaha memberikan pengertian tentang aksi dan reaksi yang terjadi dalam kehidupan sosial. Max Weber juga dikenal sebagai tokoh yang memelopori terbentuknya metode sosiologi.

Tugas 1
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar!
1.

C. Penerapan Metode Sosiologi Dalam Penelitian Sosial Sederhana
1. Kegiatan Penelitian
Secara umum, prosedur yang dipergunakan dalam penelitian sosiologi meliputi beberapa langkah sebagai berikut:
1. Penyusunan rancangan penelitian yang meliputi:
a. Menentukan topik penelitian
b. Membuat rumusan masalah penelitian.
c. Membuat hipotesa.
d. Menentukan subjek penelitian, yakni menentukan populasi dan sampel penelitian.
e. Mengenali dua pendekatan utama dalam penelitian, yaitu pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif.
f. Mengenali jenis data yang akan dikumpulkan, baik yang berupa data primer maupun data skunder.
g. Membuat instrumen penelitian.
2. Pengumpulan data yang dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti:
a. Melakukan kajian kepustakaan.
b. Menganalisa data-data yang bersumber dari media massa.
c. Melakukan pengamatan langsung di lapangan (observasi).
d. Melakukan wawancara.
e. Menyebarkan angket.
3. Pengolahan data yang dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini:
a. Mengelompokkan data-data yang telah terkumpul.
b. Memberikan kode-kode tertentu terhadap data-data yang telah terkumpul.
c. Mengenali kecenderungan umum dari data yang telah terkumpul dengan menggunakan statistik sederhana, seperti rata-rata, modus, median, persen, dan sebagainya.
d. Mencari hubungan-hubungan dari berbagai data, baik yang bersifat kualitatif maupun yang bersifat kuantitatif.
e. Membuat analisa dan interpretasi terhadap data penelitian.
4. Penulisan laporan penelitian yang terdiri dari:
a. Pendahuluan, yang meliputi:
1) Latar belakang masalah.
2) Rumusan masalah.
3) Tujuan penelitian.
4) Manfaat penelitian.
b. Landasan teori.
(Yakni teori-teori yang akan dipergunakan untuk kegiatan analisis sesuai dengan permasalahan yang diangkat).
c. Metode penelitian, yang meliputi:
1) Pendekatan masalah penelitian.
2) Subjek penelitian (populasi dan sampel).
3) Sumber dan teknik pengumpulan data.
4) Instrumen penelitian.
5) Teknik pengolahan dan analisis data.
d. Hasil penelitian.
e. Pentup, yang terdiri dari:
1) Kesimpulan.
2) Saran.
f. Daftar kepustakaan.
5. Penyajian laporan penelitian.
2. Teknik pengumpulan data
Dalam suatu penelitian, data merupakan sesuatu yang paling berharga karena dengan menggunakan datalah kesimpulan dimungkinkan dapat diperoleh. Dalam penelitian sosiologi terdapat beberapa teknik yang dapat dipergunakan dalam upaya pengumpulan data, di antaranya adalah observasi, wawancara, questionaire, angket, dan dokumentasi.
1. Teknik observasi merupakan suatu cara pengumpulan data dalam penelitian sosiologi dengan mengadakan pengamatan secara langsung terhadap objek penelitian sehingga diperoleh data-data yang diperlukan. Teknik observasi akan lebih intensif jika peneliti secara partisipatif melibatkan diri dalam kehidupan masyarakat yang digunakan sebagai subjek penelitian.
2. Teknik wawancara merupakan suatu cara pengumpulan data dalam penelitian sosiologi dengan cara melakukan wawancara secara intensif dengan nara sumber yang dianggap dapat memberikan keterangan sehubungan dengan permasalahan yang diangkat dalam kegiatan penelitian.
3. Teknik questionaire merupakan cara pengumpulan data dalam penelitian sosiologi dengan cara memberikan daftar pertanyaan kepada nara sumber yang dianggap dapat memberikan keterangan sehubungan dengan permasalahan yang diangkat dalam kegiatan penelitian.
4. Teknik angket merupakan suatu cara pengumpulan data dalam penelitian sosiologi dengan cara menyebarkan angket kepada sampel penelitian yang telah ditetapkan untuk memperoleh data-data yang diperlukan dalam kegiatan penelitian.
5. Teknik dokumentasi merupakan suatu cara pengumpulan data dalam penelitian sosiologi dengan memanfaatkan dokumen-dokumen yang ada dan relevan dengan permasalahan yang diangkat dalam kegiatan penelitian.

D. Hubungan Antara Berbagai Konsep Tentang Realitas Sosial Budaya
Sebagai makhluk berbudaya, manusia berhasil mengatasi masalah kehidupannya. Hal tersebut berhasil dilakukan berkat kemampuan manusia dalam menguasai dan mengembangkan ilmu dan teknologi. Dalam kajian sosiologis, fenomena-fenomena yang terjadi dalam masyarakat tersebut merupakan fenomena yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Sebagai contoh, fenomena pertumbuhan industri di perkotaan merupakan hasil dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan industri di perkotaan pada gilirannya menjadi faktor penarik (pull factor) terjadinya urbanisasi atau perpindahan penduduk dari pedesaan ke perkotaan.
Pada mulanya, perpindahan penduduk tersebut merupakan fenomena sosial yang menguntungkan bagi perkotaan dan pusat-pusat perindustrian, dimana tenaga kerja yang dibutuhkan oleh sektor-sektor industri dapat terpenuhi. Namun, pada perkembangan berikutnya arus urbanisasi yang semakin menderas menjadi masalah lain bagi perkotaan. Dengan demikian, perkembangan IPTEK tidak selamanya menghasilkan fenomena yang menguntungkan, tetapi juga merugikan atau melahirkan masalah sosial.
Beberapa masalah yang muncul akibat perkembangan iptek, industrialisasi, dan urbanisasi ini dapat dibagi menjadi dua kelompok, antara lain:
a. masalah sosial sebagai pengaruh disorganisasi, seperti kemiskinan, disorganisasi keluarga, lingkungan hidup, peperangan, dan lain sebagainya, dan
b. masalah sosial sebagai akibat dari adanya perilaku menyimpang, seperti kriminalitas, prostitusi, alkoholisme, dan lain sebagainya

1. Perkembangan Iptek di Indonesia
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia sejalan dengan proses modernisasi. Sebagai suatu proses sosial, modernisasi sulit dicari batasannya secara mutlak karena beberapa hal sebagai berikut:
a. Modernisasi meliputi proses yang sangat luas dan mencakup berbagai segi kehidupan.
b. Terdapat perbedaan titik tekan modernisasi pada masing-masing daerah atau wilayah karena disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing daerah atau wilayah tersebut. Namun demikian, sosiolog kenamaan Indonesia Soerjono Soekanto mengatakan bahwa secara umum modernisasi mencakup suatu bentuk transformasi total dari kehidupan tradisional atau pramodern (dalam arti teknologi dan organisasi sosial) ke arah kehidupan yang lebih modern dengan pola-pola ekonomis dan politis seperti yang dicirikan oleh negara-negara barat. Atau lebih tepat lagi jika dikatakan bahwa modernisasi merupakan suatu bentuk perubahan sosial yang didasarkan pada perencanaan sosial yang terarah. Dalam hal ini, Koentjaraningrat menyatakan bahwa modernisasi merupakan suatu usaha untuk hidup sesuai dengan zaman konstelasi dunia pada saat ini. Modernisasi masyarakat Indonesia telah berlangsung sejak abad ke-20-an. Modernisasi tersebut mencakup berbagai aspek kehidupan, antara lain bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan sebagainya. Proses modernisasi di Indonesia dirancang sesuai dengan program pembangunan nasional yang tertuang dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).
Kembali pada masalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia, sejak masa pemerintahan Orde Baru Indonesia mulai mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut dapat diperhatikan dengan didirikannya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Dalam hal tersebut, pendalaman berbagai disiplin ilmu pengetahuan ditingkatkan secara terpadu untuk mengoptimalkan penguasaan ilmu pengetahuan dasar dan sekaligus pendayagunaan ilmu pengetahuan terapan untuk menghasilkan teknologi yang mendukung proses pembangunan

2. Industrialisasi di Indonesia
Industrialisasi merupakan suatu usaha atau suatu kegiatan untuk membuat dan meng-hasilkan barang-barang konsumsi dalam suatu negara. Proses industrialisasi mengandung pengertian menjadikan sektor industri sebagai lapangan kerja baru dalam rangka meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat. Proses industrialisasi di Indonesia mengalami perkembangan pesat pada masa pemerintahan Orde Baru, terutama sejak pelaksanaan program Pembangunan Lima Tahun (Pelita).
Pembangunan pada sektor perindustrian dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan melalui Repelita yang satu menuju Repelita berikutnya. Hal tersebut dapat diperhatikan pada prioritas-prioritas pembangunan pada masing-masing Repelita, sebagai berikut:
a. Repelita I menitikberatkan pada pengembangan industri yang menunjang pemenuhan kebutuhan pokok.
b. Repelita II menitikberatkan pada pengembangan industri yang menunjang pemenuhan kebutuhan pokok dan sekaligus pengembangan industri yang mampu mengolah bahan mentah menjadi bahan baku.
c. Repelita III menitikberatkan pada pengembangan industri yang mengolah bahan mentah menjadi barang jadi.
d. Repelita IV dan Repelita V menitikberatkan pada pengembangan industri yang menghasil-kan mesin-mesin industri.
Proses industrialisasi di Indonesia diarahkan pada perluasan lapangan kerja baru, penyediaan barang dan jasa, peningkatan ekspor dan penghematan devisa. Proses industrialisasi juga diarahkan untuk menunjang pembangunan daerah sekaligus juga berfungsi sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Sejak era reformasi bergulir pada tahun 1998, semangat industrialisasi justru sejalan dengan otonomi daerah. Dengan demikian, proses industrialisasi di Indonesia tidak hanya terjadi di kota-kota besar, melainkan juga terjadi di tingkat provinsi, kabupaten dan/atau kota madya. Ini berarti proses industrialisasi di Indonesia semakin meningkat dan sekaligus merata

3. Urbanisasi di Indonesia
Pada dasarnya, urbanisasi merupakan bagian dari proses migrasi atau proses perpindahan penduduk. Urbanisasi merupakan perpindahan penduduk dari desa atau daerah menuju kota-kota besar dengan maksud untuk mencari pekerjaan yang bersifat menetap. Banyak sekali faktor yang mendorong terjadinya urbanisasi, di antaranya adalah: (1) kehidupan ekonomi yang sulit di desa atau daerah asal yang disebabkan oleh mata pencaharian yang tidak menetap, dan (2) keinginan untuk mengubah nasib menjadi lebih baik di kota-kota tujuan dengan cara mencari pekerjaan yang layak dan sekaligus bersifat menetap.
Sejalan dengan uraian di atas, pembangunan sentra-sentra industri di Indonesia me-mang diperuntukkan bagi penyediaan lapangan kerja baru bagi bangsa Indonesia. Itulah sebabnya, dengan dibangunnya sentra-sentra industri di beberapa kota besar di Indonesia menjadi pendorong utama bagi masyarakat pedesaan untuk melakukan urbanisasi. Beberapa kota besar di Indonesia telah menjadi tujuan utama bagi kaum urban, di antaranya adalah kota metro politan Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Denpasar, Medan, dan lain sebagainya. Beberapa kota tersebut memiliki daya tarik masing-masing sehingga dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan penduduk yang luar biasa sebagai akibat dari datangnya kaum urban.\
Arus urbanisasi sebagaimana yang telah diuraikan di atas, selain menimbulkan dampak yang positif juga telah menimbulkan dampak yang negatif. Dampak positif dari urbanisasi dapat diperhatikan pada beberapa hal, seperti: (1) meningkatnya taraf ekonomi kaum urban, (2) terpenuhinya tenaga kerja di sektor-sektor industri sehingga menunjang proses industrialisasi, dan sebagainya.
Namun demikian, urbanisasi juga dapat menimbulkan persoalan-persoalan kependudukan yang rumit, seperti:
(1) terbengkalainya lahan-lahan pertanian di pedesaan sebagai akibat dari perginya sejumlah tenaga kerja,
(2) tingkat kepadatan penduduk di kota-kota besar yang semakin meningkat,
(3) kaum urban yang tidak tertampung di sektor perindustrian dan tidak berhasil mencari pekerjaan lain akan menimbulkan pengangguran-pengangguran baru,
(4) gejala kemiskinan semakin meningkat yang ditandai oleh tumbuhnya pemukiman-pemukiman kumuh,
(5) munculnya tindak kriminalitas dan beberapa perilaku menyimpang lainnya, seperti prostitusi, penyimpangan seksual, dan lain sebagainya.

Rangkuman

Tokoh yang pertama kali mengemukakan istilah sosiologi adalah Auguste Comte (1798- 1857). Pemikiran-pemikirannya yang mendalam tentang masyarakat telah menempatkan Auguste Comte sebagai peletak dasar ilmu sosiologi. Selanjutnya, ilmu sosiologi ini dikembangkan oleh beberapa pakar, antara lain:
1. Max Weber
2. Roucek Warren
3. Peter L. Berger
4. Emile Durkheim
5. Pitirim Sorokin
6. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi,
Sosiologi adalah ilmu yang mengkaji masyarakat, Menurut J.L. Gillin dan J.P. Gillin mengatakan bahwa masyarakat merupakan kesatuan hidup manusia yang terikat oleh suatu tata cara (sistem), kebiasaan, dan adat istiadat tertentu yang dianut oleh anggota-anggotanya. Dalam bukunya yang berjudul Pengantar Ilmu Antropologi, Koentjaraningrat mengatakan bahwa masyarakat merupakan sekumpulan manusia yang saling bergaul atau saling berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Sebagai ilmu, sosiologi didukung oleh beberapa hal yaitu:
1. Memiliki objek kajian
2. Memiliki metode ilmiah
3. Memiliki masyarakat ilmiah
Berdasarkan sifat dan hakikatnya sebagai ilmu, sosiologi memiliki beberapa karakteristik di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Tidak memiliki konsep maupun teori yang tetap dan pasti mengingat objek kajiannya adalah masyarakat yang bersifat dinamis dan majemuk.
2. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat kategoris, yakni terbatas dalam hal mengkaji sesuatu yang telah terjadi dalam kehidupan masyarakat.
3. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat umum, yakni memusatkan perhatiannya terhadap gejala-gejala sosial yang bersifat universal.
4. Sebagai ilmu murni (pure science), sosiologi membatasi diri dari persoalanpersoalan yang bersifat penilaian.
Selain sebagai ilmu, sosiologi juga merupakan metode. Metode yang lazim dipakai dalam penelitian sosiologi antara lain adalah sebagai berikut:
1. Metode kualitatif, merupakan metode sosiologi yang menekankan pengumpulan data yang berupa kata-kata.
a. Metode historis
b. Metode komparatif
c. Metode studi kasus
2. Metode kuantitatif
a. Metode statistik adalah metode penelitian yang bertujuan untuk mengkaji fenomena sosial melalui data-data statistik.
b. Metode sociometry
3. Metode induktif dipergunakan sebagai pertimbangan dalam mengambil kesimpulan umum.
4. Metode deduktif
5. Metode empiris
Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong berkembangnya industrialisasi. Selanjutnya, perkembangan industrialisasi mendorong perpindahan tenaga-tenaga kerja yang berasal dari pedesaan menuju sektor-sektor industri di perkotaan. Dengan demikian, ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan faktor penting bagi terjadinya dinamika sosial. Dari perkembangan iptek dan industrialisasi tersebut selain melahirkan dampak positif dan negative.
Masalah sosial Ditinjau dari penyebabnya, masalah sosial dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu: (1) masalah sosial sebagai pengaruh disorganisasi, seperti kemiskinan, disorganisasi keluarga, lingkungan hidup, peperangan, dan lain sebagainya, dan (2) masalah sosial sebagai akibat dari adanya perilaku menyimpang, seperti kriminalitas, prostitusi, alkoholisme, dan lain sebagainya.
Di Indonesia, IPTEK berkembang sejalan dengan proses modernisasi. Sebagai suatu proses sosial, modernisasi sulit dicari batasannya secara mutlak karena beberapa hal sebagai berikut:
a. Modernisasi meliputi proses yang sangat luas dan mencakup berbagai segi kehidupan.
b. Terdapat perbedaan titik tekan modernisasi pada masing-masing daerah atau wilayah karena disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing daerah atau wilayah tersebut.
Selain itu, bergulir pula proses industrialisasi di Indonesia yang diarahkan pada perluasan lapangan kerja baru, penyediaan barang dan jasa, peningkatan ekspor dan penghematan devisa.